Lulus, sebuah kata yang diidam-idamkan oleh siapa saja yang sedang menempuh suatu jenjang pendidikan. Karena dengan lulus maka paripurna lah kewajiban-kewajiban formal, telah selesai lah perjuangan-perjuangan dalam menggapainya, dan kita telah dianggap menguasai bidang yang kita pelajari.
Pada pendidikan dasar dan menengah, lulus diidentikkan dengan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. SD ke SMP, SMP ke SMA dan sebagainya. Sedang pada pendidikan tinggi umumnya setelah lulus selesailah menempuh pendidikan formal, meski tidak sedikit yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Para lulusan banyak yang memutuskan mencari pekerjaan, dengan bermodal secarik ijazah yang diperoleh. Ijazah tersebut dianggap sebagai tiket meraih masa depan, kunci kesuksesan. Benarkah demikian..??
Disini saya coba membagi sisi lain akan sebuah makna kelulusan. Cuplikan pidato pada upacara wisuda di Coxsackie-Athens High School di New York. Disampaikan oleh wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun ini, Erica Goldson*
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.
Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan.......”
Walaupun kebanyakan orang tidak tahu seperti apa rasanya menjadi lulusan terbaik, tetapi saya rasa hampir setiap orang yang pernah sekolah sedikit banyak bisa memahami apa yang sedang dirasakan oleh “lulusan terbaik” ini.
Kalau Anda renungkan, sekarang setelah tidak lagi perlu membaca buku pelajaran sekolah, apa yang Anda rasakan tentang institusi yang dinamakan sekolah dan universitas? Apa yang sebenarnya telah Anda pelajari selama di sana? Karakter-karakter umum apa yang dimiliki oleh mayoritas penduduk, setelah belasan tahun di-training di dalam institusi itu?
Entah bagaimana menjawabnya. Yang pasti, salah satu persamaan umum di antara mereka mungkin adalah kemampuan dan insting untuk mengikuti instruksi…
Lakukan apa yang disuruh.
Percayai apa yang diajarkan.
Jangan menyimpang dari text book.
Tentu, segala sesuatu memiliki dua sisi. Membina sebuah generasi menjadi orang yang patuh mengikuti sistem ada baiknya (bagi orang-orang tertentu), dan ada juga sisi tidak baiknya (bagi orang-orang yang lain).
*dicuplik sebagian dari http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html
reefolutions
blog-ku, pemikiran-ku...
Sabtu, 28 Januari 2012
Senin, 10 Januari 2011
cerita dari indonesia
part II
ini sebuah cerita
dari sebuah negara
bernama indonesia
di indonesia
hampir semua ada jokinya
pacuan kuda ada jokinya
mau ujian ada jokinya
lewat 3-in-1 ada jokinya
bahkan masuk penjara pun ada jokinya
di indonesia
koruptor seperti raja
hukuman ringan, dapat remisi pula
keluar masuk tahanan biasa
bisa plesiran, dalam atau luar negeri bisa saja
bahkan dilantik jadi walikota pun bisa
di indonesia
orang miskin dilarang sakit
orang miskin dilarang sekolah
dan sekarang
orang miskin dilarang makan sambal
aparat seperti keparat
pejabat seperti bejat
presiden seperti sinden
part I
ini sebuah cerita
dari sebuah negara
bernama indonesia
di saat rakyatnya menderita
pejababatnya hidup bergelimang harta
para menterinya dapat mobil mewah
saat rakyatnya terpincang-pincang mencari nafkah
korupsi dan narkoba
katanya musuh bangsa
tapi apa upaya untuk menumpasnya
hanya retorika
pelakunya justeru dimanja
penjaranya bagaikan istana
mereka terpidana tapi diperlakukan seperti raja
dingin dan kotornya lantai penjara tak sampai ke tubuhnya
karena selnya bagai hotel bintang lima
tak perlu susah tidur, karena kasur empuk spring-bed tersedia
tak perlu gerah kepanasan, karena hembusan dingin AC siap kapan saja
jika bosan, maka bernyanyilah
bersuka cita, riang gembira
karena ruang karaoke dengan set sistem audio juga ada
kalau ingin memanjakan diri, perawatan kecantikan juga bisa
wahai penguasa
engkau memang punya mata, tapi 'buta'
engkau memang punya telinga, tapi 'tuli'
engkau memang punya otak, tapi 'dungu'
jika kau tetap diam saja, apakah masih layak bahwa kau bukanlah manusia yang 'hina' ?
part II : januari 2011
terinspirasi joki tukar tahanan, terdakwa korupsi yang dilantik jadi walikota, plesiran gayus, harga cabe menggila.
part I : januari 2010
terinspirasi mobil mewah menteri baru, penjara mewah ayin.
ini sebuah cerita
dari sebuah negara
bernama indonesia
di indonesia
hampir semua ada jokinya
pacuan kuda ada jokinya
mau ujian ada jokinya
lewat 3-in-1 ada jokinya
bahkan masuk penjara pun ada jokinya
di indonesia
koruptor seperti raja
hukuman ringan, dapat remisi pula
keluar masuk tahanan biasa
bisa plesiran, dalam atau luar negeri bisa saja
bahkan dilantik jadi walikota pun bisa
di indonesia
orang miskin dilarang sakit
orang miskin dilarang sekolah
dan sekarang
orang miskin dilarang makan sambal
aparat seperti keparat
pejabat seperti bejat
presiden seperti sinden
part I
ini sebuah cerita
dari sebuah negara
bernama indonesia
di saat rakyatnya menderita
pejababatnya hidup bergelimang harta
para menterinya dapat mobil mewah
saat rakyatnya terpincang-pincang mencari nafkah
korupsi dan narkoba
katanya musuh bangsa
tapi apa upaya untuk menumpasnya
hanya retorika
pelakunya justeru dimanja
penjaranya bagaikan istana
mereka terpidana tapi diperlakukan seperti raja
dingin dan kotornya lantai penjara tak sampai ke tubuhnya
karena selnya bagai hotel bintang lima
tak perlu susah tidur, karena kasur empuk spring-bed tersedia
tak perlu gerah kepanasan, karena hembusan dingin AC siap kapan saja
jika bosan, maka bernyanyilah
bersuka cita, riang gembira
karena ruang karaoke dengan set sistem audio juga ada
kalau ingin memanjakan diri, perawatan kecantikan juga bisa
wahai penguasa
engkau memang punya mata, tapi 'buta'
engkau memang punya telinga, tapi 'tuli'
engkau memang punya otak, tapi 'dungu'
jika kau tetap diam saja, apakah masih layak bahwa kau bukanlah manusia yang 'hina' ?
part II : januari 2011
terinspirasi joki tukar tahanan, terdakwa korupsi yang dilantik jadi walikota, plesiran gayus, harga cabe menggila.
part I : januari 2010
terinspirasi mobil mewah menteri baru, penjara mewah ayin.
Rabu, 29 September 2010
Indonesiamu, Indonesiaku...
Kau memiliki Indonesiamu, dan aku memiliki Indonesiaku.
Milikmu adalah Indonesia politis dengan segala persoalannya.
Milikku adalah Indonesia alami dengan kecantikannya.
Kau memiliki Indonesiamu dengan program dan masalahnya.
Aku memiliki Indonesiaku dengan harapan dan impiannya.
Puaskan dirimu dengan Indonesiamu, seperti aku yang tenang dengan Indonesia yang bebas dalam visiku.
Indonesiamu adalah wilayah; teritorial darat, laut, dan udara.
Indonesiaku adalah kesatuan keindahan yang paripurna, untaian zamrud khatulistiwa, bongkahan surga yang jatuh ke bumi.
Indonesiamu adalah potensi konflik antar golongan.
Indonesiaku adalah keragaman, kemajemukan dalam harmoni yang damai.
Indonesiamu adalah sekumpulan undang-undang, berkitab-kitab hukum, dan bertumpuk-tumpuk peraturan.
Indonesiaku adalah keramahan, tenggang rasa, saling menghormati dan menghargai.
Indonesiamu adalah ibukota.
Indonesiaku adalah ibu-ibu sejati penuh kasih dan cinta.
Indonesiamu adalah presiden, menteri, gubernur, walikota, dan bupati.
Indonesiaku adalah ulama, ilmuwan, cendekiawan, penyair, seniman, dan budayawan.
Indonesiamu adalah istana, upacara, pidato-pidato, dan konferensi-konferensi.
Indonesiaku adalah pasar rakyat, pasar malam, pembacaan sajak dan puisi, alunan merdu suara hati, dan nyanyian rindu ibu pertiwi.
Indonesiamu adalah tentara, lengkap dengan senjata dan armada perang.
Indonesiaku adalah anak-anak yang bernyanyi riang, bermain, tertawa, bersenda gurau; bayi-bayi yang menyusu ibunya dalam kelembutan, dan terlelap dalam kedamaian.
Indonesiamu adalah demokrasi, demonstrasi, kampanye, pemilu, dan manipulasi.
Indonesiaku adalah moralitas, etika, kebudayaan, adat istiadat, dan nasihat.
Indonesiamu adalah kumpulan politisi, partai-partai, dan koalisi.
Indonesiaku adalah para ayah yang bekerja di ladang, membajak sawah, berlayar menjaring ikan di laut; pemuda-pemuda yang giat belajar dan berkarya; yang menyanyikan lagu kehidupan, yang menggambar lukisan keindahan.
Indonesiamu adalah gedung-gedung tinggi menjulang, menara-menara angkuh pencakar langit.
Indonesiaku adalah keharuman melati, sekuntum mawar merah yang baru mekar, anggrek yang memesona, keanggunan bunga-bunga lily.
Indonesiamu adalah deru bising mesin-mesin pabrik.
Indonesiaku adaah kicauan burung-burung, aungan singa-singa penguasa hutan, kokok ayam jantan di kala fajar.
Indonesiamu adalah yang buminya kau nodai, yang kau keruk isinya hingga merintih.
Indonesiaku adalah barisan bukit-bukit dan gunung-gunung yang berdiri tegak menuju langit biru, hamparan padang ilalang, kebun-kebun, dan sawah yang hijau; sungai yang mengalir tenang ke lautan; pepohonan yang angin menggoyang-goyangkan dahan dan rantingnya, yang tiupannya menggugurkan daun-daun tua ke tanah.
Indonesiamu adalah yang lautnya kau kotori, yang kau serap sarinya lantas kau cemari.
Indonesiaku adalah samudera biru nan cantik, yang ombaknya bergelora, dengan terumbu karang yang eksotis, dengan ikan-ikan yang bebas berenang kesana-kemari.
Indonesiamu adalah rupiah.
Indonesiaku tak ternilai harganya.
Indonesiamu adalah yang kau peringati setahun sekali.
Indonesiaku adalah yang selalu kucintai, kukagumi terus sepanjang hari, sampai mati.
Indonesiamu adalah musim kemarau yang terik menyengat.
Indonesiaku adalah musim penghujan yang menyejukkan.
Indonesiamu adalah ambisi, kekuasaan, dan nafsu duniawi.
Indonesiaku adalah hasrat, cinta, dan mimpi-mimpi.
Kau memiliki Indonesiamu dan aku dengan Indonesiaku.
Indonesiamu adalah Indonesiamu, Indonesiaku adalah Indonesiaku.
inspired by "You Have Your Lebanon I Have Mine" Kahlil Gibran
Puaskan dirimu dengan Indonesiamu, seperti aku yang tenang dengan Indonesia yang bebas dalam visiku.
Indonesiamu adalah wilayah; teritorial darat, laut, dan udara.
Indonesiaku adalah kesatuan keindahan yang paripurna, untaian zamrud khatulistiwa, bongkahan surga yang jatuh ke bumi.
Indonesiamu adalah potensi konflik antar golongan.
Indonesiaku adalah keragaman, kemajemukan dalam harmoni yang damai.
Indonesiamu adalah sekumpulan undang-undang, berkitab-kitab hukum, dan bertumpuk-tumpuk peraturan.
Indonesiaku adalah keramahan, tenggang rasa, saling menghormati dan menghargai.
Indonesiamu adalah ibukota.
Indonesiaku adalah ibu-ibu sejati penuh kasih dan cinta.
Indonesiamu adalah presiden, menteri, gubernur, walikota, dan bupati.
Indonesiaku adalah ulama, ilmuwan, cendekiawan, penyair, seniman, dan budayawan.
Indonesiamu adalah istana, upacara, pidato-pidato, dan konferensi-konferensi.
Indonesiaku adalah pasar rakyat, pasar malam, pembacaan sajak dan puisi, alunan merdu suara hati, dan nyanyian rindu ibu pertiwi.
Indonesiamu adalah tentara, lengkap dengan senjata dan armada perang.
Indonesiaku adalah anak-anak yang bernyanyi riang, bermain, tertawa, bersenda gurau; bayi-bayi yang menyusu ibunya dalam kelembutan, dan terlelap dalam kedamaian.
Indonesiamu adalah demokrasi, demonstrasi, kampanye, pemilu, dan manipulasi.
Indonesiaku adalah moralitas, etika, kebudayaan, adat istiadat, dan nasihat.
Indonesiamu adalah kumpulan politisi, partai-partai, dan koalisi.
Indonesiaku adalah para ayah yang bekerja di ladang, membajak sawah, berlayar menjaring ikan di laut; pemuda-pemuda yang giat belajar dan berkarya; yang menyanyikan lagu kehidupan, yang menggambar lukisan keindahan.
Indonesiamu adalah gedung-gedung tinggi menjulang, menara-menara angkuh pencakar langit.
Indonesiaku adalah keharuman melati, sekuntum mawar merah yang baru mekar, anggrek yang memesona, keanggunan bunga-bunga lily.
Indonesiamu adalah deru bising mesin-mesin pabrik.
Indonesiaku adaah kicauan burung-burung, aungan singa-singa penguasa hutan, kokok ayam jantan di kala fajar.
Indonesiamu adalah yang buminya kau nodai, yang kau keruk isinya hingga merintih.
Indonesiaku adalah barisan bukit-bukit dan gunung-gunung yang berdiri tegak menuju langit biru, hamparan padang ilalang, kebun-kebun, dan sawah yang hijau; sungai yang mengalir tenang ke lautan; pepohonan yang angin menggoyang-goyangkan dahan dan rantingnya, yang tiupannya menggugurkan daun-daun tua ke tanah.
Indonesiamu adalah yang lautnya kau kotori, yang kau serap sarinya lantas kau cemari.
Indonesiaku adalah samudera biru nan cantik, yang ombaknya bergelora, dengan terumbu karang yang eksotis, dengan ikan-ikan yang bebas berenang kesana-kemari.
Indonesiamu adalah rupiah.
Indonesiaku tak ternilai harganya.
Indonesiamu adalah yang kau peringati setahun sekali.
Indonesiaku adalah yang selalu kucintai, kukagumi terus sepanjang hari, sampai mati.
Indonesiamu adalah musim kemarau yang terik menyengat.
Indonesiaku adalah musim penghujan yang menyejukkan.
Indonesiamu adalah ambisi, kekuasaan, dan nafsu duniawi.
Indonesiaku adalah hasrat, cinta, dan mimpi-mimpi.
Kau memiliki Indonesiamu dan aku dengan Indonesiaku.
Indonesiamu adalah Indonesiamu, Indonesiaku adalah Indonesiaku.
inspired by "You Have Your Lebanon I Have Mine" Kahlil Gibran
Minggu, 29 Agustus 2010
Iqra! Tulislah!
Iqra! itulah kata pertama yang diturunkan Tuhan untuk Muhammad. Kata yang berarti harfiah : bacalah! Ya, bacalah. Kita pun akhirnya merenung sebegitu pentingkah membaca, hingga Tuhan-pun menurunkankan perintah membaca pertama kali pada utusannya, Muhammad, melalui perantaraan Jibril. Lambat laun kita mengerti, memang sangat pentinglah membaca itu, paling tidak dengan bisa membaca Anda bisa mengerti arti akan sekumpulan simbol-simbol yang sedang Anda lihat saat ini. Dengan membaca kita bisa tahu apa yang sebelumnya kita tidak tahu, bisa mengerti apa yang sebelumnya kurang mengerti, membaca bisa menambah wawasan, pengetahuan, ilmu, dan banyak lagi manfaatnya. Bagi saya pribadi membaca adalah kebutuhan. Jika tubuh butuh asupan makanan dan minuman, maka otak-pun butuh asupan bacaan. Jika makan dan minum adalah nutrisi tubuh, maka membaca dan berpikir adalah nutrisi otak.
Lantas apa hubungannya dengan judul "Iqra! Tulislah!". Bukankah Iqra berarti bacalah, bukan tulislah. Begini, logika sederhananya, apa yang dibaca kalau tidak ada yang tertulis. Ya, menurut saya membaca dan menulis merupakan komplementer, saling melengkapi tak bisa dipisahkan. Layaknya kopi dan gula, seperti dicontohkan di pelajaran ekonomi sekolah menengah pertama, yang meski demikian banyak pula yang suka minum kopi tanpa gula.
Saya pikir membaca adalah kegiatan yang bersifat 'pasif', dalam artian dia hanya 'pasrah' menerima informasi dari apa yang dibacanya. Berbeda dengan menulis yang saya kategorikan sebagai kegiatan 'aktif'. Menulis di sini tentu bukan sekadar menulis rangkaian huruf-huruf seperti pelajaran anak TK, meski itu juga penting sebagai dasar. Namun, menulis dalam artian lebih luas, menyampaikan gagasan, ide, pemikiran dalam betuk tulisan. Baik melaui coretan tinta di kertas, maupun ketukan keyboard di komputer.
Menulis adalah sarana ekspresi, aktualisasi diri. Tulisan kita mencerminkan diri kita, sudut pandang kita, pemikiran kita akan permasalahan yang kita tulis. Apapun itu, baik puisi, curhatan diary, cerpen, hingga artikel yang berat. Tulisan kita juga merupakan bukti eksistensi kita. Rene Descartes berkata :"cogito ergo sum", yang artinya "aku berpikir maka aku ada". Saya sendiri mengartikannya dalam konteks ini bahwa keberadaan manusia di dunia ini adalah lebih karena pemikirannya, bukan sekadar ada atau pernah hidup di dunia. Dan sarana untuk mengutarakan pemikiran salah satunya tentu saja adalah dengan menulis. Kita lihat misalnya para pemikir, tokoh, ilmuwan, atau penyair, seperti Newton, Einstein, Gibran, Shakespeare, Gie, atau Soekarno. Meski kita tak pernah bertemu langsung, bahkan mungkin mereka sudah lama meninggal sebelum kita lahir, kita pasti meyakini keberadaan mereka, eksistensi mereka, ketimbang misalnya seseorang tak dikenal yang nyata masih hidup sampai saat ini di pucuk pegunungan Himalaya. Itu karena mereka meninggalkan pemikiran yang dicatatkan dalam karya mereka, dimana karya buah pemikiran mereka diabadikan, dapat diwariskan bertahun-tahun bahkan mungkin berabad-abad setelah mereka wafat, yang menunjukkan bukti eksistensi atau keberadaan mereka. Mereka akan tetap 'ada' walaupun sudah lama 'tiada'.
Aku berpikir (menulis) maka aku ada!
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
"Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
(Pramoedya Ananta Toer)
Lantas apa hubungannya dengan judul "Iqra! Tulislah!". Bukankah Iqra berarti bacalah, bukan tulislah. Begini, logika sederhananya, apa yang dibaca kalau tidak ada yang tertulis. Ya, menurut saya membaca dan menulis merupakan komplementer, saling melengkapi tak bisa dipisahkan. Layaknya kopi dan gula, seperti dicontohkan di pelajaran ekonomi sekolah menengah pertama, yang meski demikian banyak pula yang suka minum kopi tanpa gula.
Saya pikir membaca adalah kegiatan yang bersifat 'pasif', dalam artian dia hanya 'pasrah' menerima informasi dari apa yang dibacanya. Berbeda dengan menulis yang saya kategorikan sebagai kegiatan 'aktif'. Menulis di sini tentu bukan sekadar menulis rangkaian huruf-huruf seperti pelajaran anak TK, meski itu juga penting sebagai dasar. Namun, menulis dalam artian lebih luas, menyampaikan gagasan, ide, pemikiran dalam betuk tulisan. Baik melaui coretan tinta di kertas, maupun ketukan keyboard di komputer.
Menulis adalah sarana ekspresi, aktualisasi diri. Tulisan kita mencerminkan diri kita, sudut pandang kita, pemikiran kita akan permasalahan yang kita tulis. Apapun itu, baik puisi, curhatan diary, cerpen, hingga artikel yang berat. Tulisan kita juga merupakan bukti eksistensi kita. Rene Descartes berkata :"cogito ergo sum", yang artinya "aku berpikir maka aku ada". Saya sendiri mengartikannya dalam konteks ini bahwa keberadaan manusia di dunia ini adalah lebih karena pemikirannya, bukan sekadar ada atau pernah hidup di dunia. Dan sarana untuk mengutarakan pemikiran salah satunya tentu saja adalah dengan menulis. Kita lihat misalnya para pemikir, tokoh, ilmuwan, atau penyair, seperti Newton, Einstein, Gibran, Shakespeare, Gie, atau Soekarno. Meski kita tak pernah bertemu langsung, bahkan mungkin mereka sudah lama meninggal sebelum kita lahir, kita pasti meyakini keberadaan mereka, eksistensi mereka, ketimbang misalnya seseorang tak dikenal yang nyata masih hidup sampai saat ini di pucuk pegunungan Himalaya. Itu karena mereka meninggalkan pemikiran yang dicatatkan dalam karya mereka, dimana karya buah pemikiran mereka diabadikan, dapat diwariskan bertahun-tahun bahkan mungkin berabad-abad setelah mereka wafat, yang menunjukkan bukti eksistensi atau keberadaan mereka. Mereka akan tetap 'ada' walaupun sudah lama 'tiada'.
Aku berpikir (menulis) maka aku ada!
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
"Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
(Pramoedya Ananta Toer)
Langganan:
Postingan (Atom)