Minggu, 29 Agustus 2010

Iqra! Tulislah!

Iqra! itulah kata pertama yang diturunkan Tuhan untuk Muhammad. Kata yang berarti harfiah : bacalah! Ya, bacalah. Kita pun akhirnya merenung sebegitu pentingkah membaca, hingga Tuhan-pun menurunkankan perintah membaca pertama kali  pada utusannya, Muhammad, melalui perantaraan Jibril. Lambat laun kita mengerti, memang sangat pentinglah membaca itu, paling tidak dengan bisa membaca Anda bisa mengerti arti akan sekumpulan simbol-simbol yang sedang Anda lihat saat ini. Dengan membaca kita bisa tahu apa yang sebelumnya kita tidak tahu, bisa mengerti apa yang sebelumnya kurang mengerti, membaca bisa menambah wawasan, pengetahuan, ilmu, dan banyak lagi manfaatnya. Bagi saya pribadi membaca adalah kebutuhan. Jika tubuh butuh asupan makanan dan minuman, maka otak-pun butuh asupan bacaan. Jika makan dan minum adalah nutrisi tubuh, maka membaca dan berpikir adalah nutrisi otak.

Lantas apa hubungannya dengan judul "Iqra! Tulislah!". Bukankah Iqra berarti bacalah, bukan tulislah. Begini, logika sederhananya, apa yang dibaca kalau tidak ada yang tertulis. Ya, menurut saya membaca dan menulis merupakan komplementer, saling melengkapi tak bisa dipisahkan. Layaknya kopi dan gula, seperti dicontohkan di pelajaran ekonomi sekolah menengah pertama, yang meski demikian banyak pula yang suka minum kopi tanpa gula.

Saya pikir membaca adalah kegiatan yang bersifat 'pasif', dalam artian dia hanya 'pasrah' menerima informasi dari apa yang dibacanya. Berbeda dengan menulis yang saya kategorikan sebagai kegiatan 'aktif'. Menulis di sini tentu bukan sekadar menulis rangkaian huruf-huruf seperti pelajaran anak TK, meski itu juga penting sebagai dasar. Namun, menulis dalam artian lebih luas, menyampaikan gagasan, ide, pemikiran dalam betuk tulisan. Baik melaui coretan tinta di kertas, maupun ketukan keyboard di komputer.

Menulis adalah sarana ekspresi, aktualisasi diri. Tulisan kita mencerminkan diri kita, sudut pandang kita, pemikiran kita akan permasalahan yang kita tulis. Apapun itu, baik puisi, curhatan diary, cerpen, hingga artikel yang berat. Tulisan kita juga merupakan bukti eksistensi kita. Rene Descartes berkata :"cogito ergo sum", yang artinya "aku berpikir maka aku ada". Saya sendiri mengartikannya dalam konteks ini bahwa keberadaan manusia di dunia ini adalah lebih karena pemikirannya, bukan sekadar ada atau pernah hidup di dunia. Dan sarana untuk mengutarakan pemikiran salah satunya tentu saja adalah dengan menulis. Kita lihat misalnya para pemikir, tokoh, ilmuwan, atau penyair, seperti Newton, Einstein, Gibran, Shakespeare, Gie, atau Soekarno. Meski kita tak pernah bertemu langsung, bahkan mungkin mereka sudah lama meninggal sebelum kita lahir, kita pasti meyakini keberadaan mereka, eksistensi mereka, ketimbang misalnya seseorang tak dikenal yang nyata masih hidup sampai saat ini di pucuk pegunungan Himalaya. Itu karena mereka meninggalkan pemikiran yang dicatatkan dalam karya mereka, dimana karya buah pemikiran mereka diabadikan, dapat diwariskan bertahun-tahun bahkan mungkin berabad-abad setelah mereka wafat, yang menunjukkan bukti eksistensi atau keberadaan mereka. Mereka akan tetap 'ada' walaupun sudah lama 'tiada'.
Aku berpikir (menulis) maka aku ada!


"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
"Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
(Pramoedya Ananta Toer)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar